Pusdikkes

Pusat Pendidikan Kesehatan Kodiklat TNI AD

Sejarah Pusdikkes

Pusdikkes Kodiklat TNI AD merupakan pelaksana yang berkedudukan langsung dibawah kodiklat TNI AD, dengan tugas pokok membina serta melaksanakan pendidikan kecabangan kesehatan yang meliputi pendidikan pembentukan, pendidikan pengembangan umum, pendidikan pengembangan spesialisasi, pendidikan peralihan dan pendidikan – pendidikan lain yang di tentukan oleh satuan atas serta melaksanakan penelitian, pengembangan pendidikan dan pengajaran kesehatan.

Sejarah terbentuknya cikal bakal Pusdikkes Kodiklat TNI AD secara de vacto bisa dikatakan dimulai pada pertengahan tahun 1951, melalui pendidikan calon Intruktur Kesehatan Lapangan/ Militer yang diambil dari DKT Teritorial. Dalam kurun waktu tahun 1951 sampai dengan sekarang Pusdikkes Kodiklat TNI AD telah tumbuh dan berkembang sejalan dengan situasi dan kondisi TNI AD saat itu. Walaupun telah terjadi beberapa kali perubahan status organisasi, mulai dari terbentuknya sampai saat ini, Pusdikkes Kodiklat TNI AD tetap dapat melaksanakan tugas pokoknya dengan baik.

LATAR BELAKANG

Pendidikan dan latihan kesehatan merupakan suatu upaya jaminan terlaksananya tugas-tugas perawatan di rumah-rumah sakit serta pemeliharaan kesehatan, bagi personel TNI AD yang berdaya guna dan berhasil guna.

Jawatan Kesehatan Tentara Angkatan Darat telah terbentuk sejak akhir tahun 1945, dengan tenaga-tenaga kesehatan yang secara sukarela terjun dalam kancah perjuangan suci mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Bangsa Indonesia, baik para dokter, jururawat, maupun prajurit kesehatannya.

Corak ragam, tingkatan dan kemampuan tenaga-tenaga sukarela tersebut berbeda-beda. Ada yang berpengalaman dalam Tentara Pembela Tanah Air (PETA), ada yang memperoleh pengalaman dalam kesehatan Tentara Koningkelijke Nederlands Indische (KNIL), dalam kesehatan Hei Ho (tentara Jepang), dalam kesehatan Rakyat dan tidak sedikit mereka yang belum berpengalaman ataupun belum pernah mendapat latihan sama sekali. Kesamaannya mereka terletak pada “satu hasrat dan satu tekad”. untuk menyumbangkan tenaga dan membaktikan diri sebaik-baiknya mengikuti perjuangan dalam Tentara Nasional Indonesia.
Pembentukan Kesatuan-kesatuan Kesehatan di Resimen-resimen yang anggotanya dilatih secara praktis menurut pandangan dan pengetahuan dokter Resimen masing-masing sebagai bekal menjalankan tugas di garis depan dan Rumah Sakit Darurat.

Dalam rapat dokter-dokter Divisi di Solo pada tahun 1946 telah dikemukakan suatu pokok acara untuk mengusahakan persamaan dalam pendidikan dan latihan bagi tenaga-tenaga DK-AD/ Kesehatan Tentara agar seluruh DKT setaraf mutunya. Dari hasil rapat tersebut lahirlah sebuah Panitia Pendidikan dengan anggota-anggotanya antara lain:

  • Mayor dr. Soemarno Sosroatmodjo – Kepala RST Malang.
  • Letkol dr. Satrlo – dokter Divisi Banten.

Panitia belum sempat bekerja sesuai apa yang direncanakan, telah diobrak-abrik oleh clash-clash dengan tentara Belanda sehingga koordinasi yang dimaksudkan tertunda hampir selama 5 tahun.

Didalam medio tahun 1950 setelah pengoperan “Lager Hospital”  menjadi RSTP (RSPAD sekarang) di Jakarta, yang pertama dilakukan adalah pembukaan pendidikan jururawat/ perawat dan bidan, termasuk dirumah-rumah Sakit Tentara di daerah. Sementara itu dipikirkan pula perlu diadakannya pendidikan/ sekolah spesifik kesehatan militer, yang dapat menjamin pengembangan kemampuan  satuan-satuan kesehatan dimedan tempur.

Sejalan dengan upaya kegiatan pendidikan di rumah – rumah sakit  tentara yang khusus mendidik para jururawat, perawat dan bidan, serta sebagai realisasi pemikiran Staf Djawatan Kesehatan Tentara (DKT – AD) untuk segera melaksanakan pendidikan yang spesifik militer, maka pada pertengahan tahun 1951, dimulai pendidikan calon Intruktur Kesehatan Lapangan/ Militer yang diambil dari DKT Teritorial.  Untuk pertama kali baru diikuti oleh 7 orang Pa/ Ba dengan tempat pendidikan di ruang bawah Markas DKT – AD Jalan dr. Abdulrachman Saleh, Jakarta.  Kepala DKT – AD menunjuk beberapa dokter Tentara/ Sipil sebagai guru, instruktur diantaranya ialah : Letkol dr. Eri Soedewo, Mayor dr. Harnopidjati, Kapten dr. Frans Pattiasina dan dr. Zainal Abidin.

Setelah beberapa bulan menerima pendidikan tambahan materi kesehatan lapangan (Keslap) dan kesehatan  militer (Kesmil), beberapa orang dari tujuh orang peserta pelatihan yang terpilih, diperintahkan untuk melanjutkan pendidiikan ke Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat di Bandung yang kemudian menghasilkan dua orang tenaga instruktur kesehatan sabagai inti, yaitu: Letda Soetomo dan Capa Samudji. Kepada kedua personel tersebut kemudian Pimpinan DKT–AD memberikan tugas sebagaii pimpinan sekolah.Mula – mula sekolah diselenggarakan dengan nama “ Sekolah Bintara Ulangan Kesehatan Lapangan “, dimana dalam rangka pelaksanaan kegiatan pendidikan, mendapat bantuan tenaga dari Misi Militer Belanda.

PEMRAKARSA

Pendidikan dan Latihan secara Intensif dan terpusat ditangani dan dibina dengan baik demi pembangunan Djawatan Kesehatan Tentara.  Dalam rangka pembangunan personel/ tenaga DKT – AD selain dibukanya kesempatan bagi para ex mahasiswa Ika Dai Gakku, maka Pimpinan Kesehatan Tentara segera  merencanakan Pendidkan dan Latihan sesuai dengan kebutuhan Organisasi Militer modern.  Maka Pendidikan Kesehatan Lapangan segera ditangani secara :

  • SentraI ( dibawah koordinasi Pusat ).
  • Lebih teratur dan di programkan.
  • Sistematis dan terarah.
  • Seragam dan bertingkat ( TA, BA, PA ).
  • Dengan memperoleh tenaga – tenaga pengajar, sarana dan fasilitaspendidikan ( termasuk biaya ) yang semakin meningkat dan diprogramkan pula.

Guna terus meningkatkan dan memperluas kegiatan dibidang pendidikan Keslap, pendidikan/ latihan bagi para pelatihpun mendapat perhatian dan bimbingan secara kusus, sehingga pada tanggal 15 Januari 1953 keluarlah surat keputusan KASAD Nomor : 5/KASAD/KPTS/53 tentang adanya sekolah pelatih Kesehatan.  Kemudian untuk menegakan kewibawaan instruktur – instruktur dan guru – guru pada sekolah militer DKT – AD serta untuk memperlancar pencapaian tujuan pendidikan, pada tanggal 25 Maret 1953 keluarlah surat keputusan KASAD Nomor : 48/KASAD/KPTS/53 tentang lencana untuk instruktur dan guru pada sekolah militer di lingkungan DKT – AD.

KAPAN DIBENTUK

Dengan keluarnya surat keputusan Kasad No. Kpts No-0-5, menyangkut pendidikan – pendidikan di lingkungan Angkatan Darat bahwa semua lembaga pendidikan kecabangan yang bersifat militer termasuk militer medis harus dibina oleh Inspektorat Pendidikan Latihan ( Idjen PL ) / Koplat. Sejak itu sebutan PPKL – AD berubah menjadi Resimen Induk Kesehatan ( Rinkes ), dan pengembangan personel baik tenaga staf maupun pelatih – pelatihnya mendapat tambahan dari Jankesad dan Koplat.  Untuk dapat menyelengarakan pendidikan dan latihan Kesehatan Militer ( Kesehatan lapangan ) yang lebih teratur dan modern, maka Pimpinan DKT – AD terhitung mulai tanggal 9 Februari 1952 meresmikan “ Lembaga Pendidikan Kesehatan Angkatan Darat “ dengan nama “ Pusat Pendidikan Kesehatan Lapangan Angkatan Darat “ disingkat PPKL – AD di Cililitan Jakarta.  Hal ini didasarkan pada Skep KASAD Nomor 074/KASAD/KPTS/II/1952 tanggal 9 Februari 1952., yang kemudian dijadikan Hari lahirnya PUSDIKKES yang diperingati setiap tahun.

Pimpinan PPKL – AD pertama kali disebut sebagai Direktur, dengan pejabat pertamanya Letkol dr. EE. Pelamonia kemudian diganti oleh Mayor dr. Sadjiman Atmosudigdo ( Pensiun Brigjen TNI ).  Selanjutnya dengan keluarnya Skep MEN/PANGAB No. KPTS/ 073/3/1963 disamping melanjutkan pendidikan – pendidikan yang bersifat regular dan pembentukan, Rinkes juga menyelenggarakan latihan – latihan bagi tenaga sukarelawan/ wati Trikora dan Dwikora dan berdasarkan Sprin Menpangab Nomor 347/1963 tanggal 6 Juni 1963, Rinkes berubah menjadi Pusat Pendidikan Kesehatan Angkatan Darat yang secara administratif dan taktis berada dibawah jawatan Kesehatan Angkatan Darat.

ORGANISASI

Dalam rangka reorganisasi ABRI, termasuk reorganisasi Angkatan Darat khususnya organisasi Kesehatan Angkatan Darat yang baru dengan sebutan Pusat Kesehatan Angkatan Darat dibawah Kobangdiklat, sedangkan Pusdikkes administrasi dan organik berada dibawah Pusat Kesehatan Angkatan Darat.  Dan selanjutnya berdasarkan keputusan KASAD Nomor 123/1971 tanggal 12 Maret 1971, Pusdikkes berubah menjadi Pusat Pendidikan Kesehatan Lapangan yang secara administratif dan taktis berada dibawah Puskesad. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 69 tahun 1971, Pusdikkeslap berubah menjadi Pusdikkes TNI AD dan berada dibawah Pusat Kesehatan Kobangdiklat TNI AD.

Selanjutnya pada tanggal 30 Nopember  1978, Puskes Kobangdiklat TNI AD bergabung dengan Jankesad, Pusdikkes TNI AD secara taktis administratif tetap berada dibawah Kobangdiklat TNI AD dengan sebutan Pusdikkes Kobangdiklat.  Berdasarkan Surat Telegram Kasad Nomor  : 552/1985 tanggal 9 september 1985 dan Surat Perintah Danjen Kobangdiklat TNI AD Nomor : Sprin/1730/IX/1985 Pusdikkes TNI AD secara taktis administratif kembali berada dibawah Ditkesad dengan sebutan Pusdikkes Ditkesad.  Selanjutnya berdasarkan Surat Perintah Kasad Nomor : Sprin/ 53/I/1999 tanggal 13 Januari 1999, tentang pelaksaan pengorganikan 7 ( tujuh ) Pusdikcab TNI kedalam Kodiklat TNI AD, maka Pusdikkes secara taktis administratif kembali berada dibawah Kodiklat TNI AD.

Dalam pelaksaan tugasnya berdasarkan Surat Keputusan Kasad  No: Kep/ 47/ X/ 2005 tanggal 27 September 2005, tentang Struktur organisasi Pusdikkes Kodiklat TNI AD (Terlampir).